SISIL MANEKIN ITU

Sisil Manekin itu

Manekinnya beneran gerak sendiri kok, Bun. Sisil liat.

Aku hanya membalik-balikkan tubuh di kasur. Ucapan Sisil di butik tadi siang kembali terngiang di telingaku.

“Kamu cuma salah liat, mana ada manekin gerak sendiri,” jawabku cuek.

“Ah, Bunda selalu nggak percaya Sisil,” rajuknya.

“Pilih baju yang kamu mau sekarang, lalu kita pulang!”
Nada suaraku datar, tapi selalu dengan penekanan. Sisil paham itu.

“Kita pulang aja, kalo nggak punya banyak waktu, nggak usah sok-sak’an nemenin,” jawabnya tak kalah datar denganku.

“Yaudah, kita pulang,” ujarku mantap.

Sisil berjalan mendahuluiku dengan muka cemberut dan langkah yang sedikit dihentakkan.
Gaya anak seusianya jika sedang ngambek. Aku mencoba tak terlalu ambil pusing, urusanku sudah cukup banyak jika harus ditambah memikirkan kelabilan remaja seperti putriku itu.

Bruuukk ….

“Eh, maaf Mbak. Saya nggak sengaja,” ucapku pada pelayan toko sambil mencoba menahan badan manekin yang kusenggol tadi agar tidak jatuh.

“Nggak apa-apa, Bu,” jawabnya seraya membantuku mendirikan kembali manekin perempuan bertopi pantai yang dikenakan baju terusan merah muda pada tubuhnya.

Tanpa sengaja mataku dan manekin itu bersitatap, ada sesuatu yang aneh. Mata itu seakan hidup dan memiliki kehidupan, tapi redup.
Aku tertegun memandanginya meskipun pelayan tadi sudah  meninggalkan kami, melayani calon pembeli yang baru saja masuk ke butik ini.

“Bunda masih lama berdiri di situ? Sisil pulang naik taksi aja ya.”

Suara putriku membuyarkan lamunan. “Yuk, pulang.”

***
Ah, lagi-lagi aku hanya membalikkan badan di kasur. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam.

“Sial!” umpatku.

Aku membungkus diri dalam selimut, mematikan lampu tidur dan mendengarkan lagu dari gawai.
Sengaja kupilih lagu-lagu yang mellow berharap kantuk segera menghampiri. Aku kembali membalik-balikkan tubuhku dalam selimut.

“Arrrgghh … ini mulai tidak lucu. Bisa-bisanya sebuah manekin berhasil menyita perhatian seorang Arneeta Baharudin, yang bahkan tak tertarik lagi pada pria mapan? Ini konyol,” lirihku pada diri sendiri.

Aku bangkit dan duduk bersila di kasur dengan selimut yang masih menutupi kaki. Kembali menyalakan lampu tidur di meja sebelah kasur, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal lalu megusap muka dengan kedua telapak tangan.

Andaikan ku dapat, mengungkapkan perasaanku …

Hingga membuat kau percaya …

Akan kuberikan seutuhnya, rasa cintaku …

Selamanya … selamanya ….

“Sisil!” geramku.

Aku meraih gawai yang masih di pangkuan, mengetik pesan whatsApp untuk putriku. Meskipun kamar dia hanya berbatasan dinding dengan kamarku, tapi berteriak di jam hampir tengah malam seperti ini tentu bukan hal yang bijak.

[Sisil, nyetel lagunya jangan keras-keras dong. Bunda kan mau tidur, besok harus berangkat pagi ke kantor]

Send.

Aku setengah mecampakkan gawai ke sisi kanan. Memijit dahi yang sedikit mulai terasa sakit lalu meremas rambut.

Drrrtt …

Gawaiku bergetar, pesan whatsApp dari Sisil masuk.

[Apaan sih Bun, kan tadi waktu makan malam Sisil udah izin sama Bunda mau nginap di rumah Lena]

Jantungku bekerja dua kali lebih cepat ketika membaca pesan dari Sisil. Sekarang aku ingat, anak itu memang izin mau menginap di rumah teman sekolahnya dan aku sendiri yang nyuruh Mang Imin nganterin putri semata wayangku itu.
Untuk beberapa saat aku terpaku.

Drrtt …

Gawaiku yang masih dalam genggaman kembali bergetar.

[Emangnya Bunda dengar lagu dari kamar Sisil? Yaudah, Bunda tidur aja. Istirahat. Jangan kebanyakan kerja, nanti pikiran Bunda malah tambah ngelantur]

Ah, putriku. Dia masih perhatian meski seringkali aku mengabaikannya.
Hubungan kami memang tak sehangat ibu dan anak putri.
Aku lebih sering mengacuhkannya.
Bukan tanpa alasan, sejak berpisah dengan Mas Sigit tujuh tahun lalu aku memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan percetakan yang dikelola Agung, seniorku waktu kuliah dulu.

Menjadi single parent yang memiliki seorang putri dengan umur Sisil yang masih enam tahun waktu itu membuatku harus bekerja keras demi memastikan semua kebutuhannya tercukupi buka hanya untuk saat ini tapi beberapa tahun mendatang.
Syukurlah, kerja kerasku tidak sia-sia. Aku berhasil membesarkan Sisil sampai usianya 13 tahun sekarang, tanpa kekurangan apa pun. Kehidupan kami bisa dikatakan mapan secara finansial.
Sisil bisa bersekolah di SMP favorit di kota kami yang bayarannya lumayan waw dan kami bisa kredit rumah di lingkungan elit meski dengan angsuran yang tidak murah setiap bulannya.

Sebagai konsekuensi dari semua pencapaian ini, aku harus merelakan kehilangan waktu bersama putriku. Seharian aku sibuk di kantor, pulang malam. Jarang bertemu Sisil meski kami saru rumah.
Selalu begitu hingga tahun demi tahun berlalu dan Sisil beranjak remaja sekarang. Hubungan emosional kami tidak begitu dekat, tapi aku yakin Sisil anak yang cerdas yang akan sangat mengerti aku melakukan semua ini untuk masa depannya, dia juga pasti mengerti betapa aku menyayanginya.
Begitu juga aku mengerti bahwa dia menyayangiku, meski yang sering terjadi adalah kami selalu berselisih paham yang kemudian dilanjutkan dengan aksi ‘diam seribu bahasa’ antara aku dan Sisil.

“Ah, kita memang ibu dan anak yang aneh, Sayang,” ucapku sambil tersenyum sendiri dan memandangi foto kami dalam balutan gamis putih di suasana lebaran tahun lalu, di frame besar yang tergantung di dinding kamarku.

Tok … tok … tok …

Aku tersentak dari lamunan panjang tentang Sisil. Siapa yang mengetuk pintu pada jam 12 malam begini batinku.
Mungkin Bi Inah, asisten rumah tangga itu boleh jadi ingin menanyaiku mau dibuatkan sarapan apa besok.
Mungkin juga Mang Imin, supir pribadi kami itu mungkin ingin menanyakan jam berapa harus menjemput Sisil besok.
Sebisa mungkin aku memenuhi otakku dengan kemungkinan-kemungkinan positif dengan harapan agar gemuruh di dadaku dapat sedikit reda, tapi nihil. Gemuruh itu justru makin kencang ketika aku turun dari kasurku dan berjalan perlahan ke arah pintu.

Aku memegang gagang pintu dengan sedikit ragu, lalu memutarnya dan mulai membuka.

Drrrttt ….

Pintu terbuka, Sisil tepat di depanku.
“Bunda, malam ini aku tidur di kamar Bunda ya?”

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *