Batu Permata Pirus, Berurat dan Berpori

Batu permata pirus adalah suatu jenis mineral tak tembus cahaya (opaque) yang terlahir dengan warna indah dari variasi biru-hijau. Permata jenis ini telah dihargai sebagai permata sejak ribuan tahun lalu. Di luar negeri, pirus dikenal dengan nama “turqoise”.

Uniknya di masa kuno, meski tidak terhubung satu dengan yang lainnya, masyarakat Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Amerika Utara secara mandiri menjadikan batu permata pirus sebagai ukiran dan berbagai macam karya seni lain.

Berdasarkan artikel berjudul “Turqoise Description” yang ditayangkan oleh situs gia.edu, diketahui bahwa batu permata pirus ditemukan di sedikit tempat saja, yaitu area kering nan tandus yang tanahnya bersifat asam dan kaya unsur tembaga. Kemudian kondisi tanah tersebut bereaksi dengan mineral yang mengandung fosfor dan alumunium. Hasilnya adalah mineral berpori yang tak tembus cahaya yang kita kenal sebagai pirus.

Batu permata pirus merupakan suatu contoh jelas dari batu berwarna yang tak tembus cahaya, namun dapat dipasarkan baik sebagai perhiasan maupun material ornamen. Batu tersebut barangkali kalah dalam hal kilau dan transparansi jika dibandingkan dengan delima, zamrud, dan safir, namun warna yang memuaskan penglihatan menjadikannya satu dari sekian banyak permata yang diinginkan sebagian kalangan.

Sejarah panjang juga meliputi batu permata pirus. Sumarni Paramita, seorang gemologis Indonesia, dalam kanal Youtube-nya menyatakan batu tersebut sudah dipakai sekitar 3000 tahun yang lalu.

“Boleh dibilang batu pirus ini salah satu batu tua, batu yang sudah berumur lama yang dijadikan sebagai perhiasan,” ujar Sumarni. Ia juga mengungkapkan, meski batu pirus ada yang berwarna hijau, namun rata-rata kolektor di dunia lebih menyukai warna biru.

Di masa lalu batu pirus banyak ditemukan di Persia (sekarang Iran). Pada masa sekarang ia juga masih dinobatkan sebagai penghasil batu pirus terbaik di dunia.

Saking populernya, pirus pun telah mencuri hati banyak kolektor yang berasal dari Indonesia. Namun terjadi perbedaan selera antara pasar dalam negeri dan luar negeri jika menyangkut batu pirus.

Kolektor Indonesia lebih menyukai batu permata pirus yang memiliki “urat emas” yang banyak (pola menyerupai tempurung kura-kura). Sementara itu, penggemar gemstone di negara-negara barat lebih menyukai batu pirus yang polos.

Seperti biasa, jika suatu batu permata banyak peminatnya, maka akan muncul metode-metode atau tindakan tertentu untuk membuatnya lebih menarik dalam rangka menambah nilai jual atau bahkan mengelabui konsumen. Pertama, ada metode yang disebut dengan Reconstituted Turquoise, yaitu batu pirus berkualitas rendah dihancurkan sampai menjadi bubuk, kemudian dibentuk ulang menjadi batu pirus.

Kedua disebut dengan Stabilized Turquoise, yaitu suatu metode “membungkus” atau melapisi pori-pori batu pirus dengan sejenis resin.

Ketiga disebut dengan Enchanced Turquoise. Karena di pasar Indonesia sangat diminati batu permata pirus dengan urat emas yang banyak, maka dilakukanlah suatu tindakan agar batu pirus polos untuk “ditanam” urat-urat emas yang dimaksud.

Keempat disebut dengan Dyed Turquoise. Yaitu batu pirus yang sudah diperkuat warna-nya dengan menggunakan zat tertentu agar lebih mudah dijual di pasar.

Dikarenakan tingkat kekerasan batu permata pirus hanya 5 sampai 6 dalam skala mohs, user diharapkan berhati-hati dalam menggunakannya.  Batu pirus adalah batu yang banyak pori-nya, sehingga sangat mudah menyerap cairan kimia semisal body oil, cairan pembersih, dan sejenisnya. Cairan-cairan tersebut berpotensi merusak dan mengubah warna batu permata.***

Penulis: Dicky Armando

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *