Gagal Paham Dengan Kedudukan Perempuan Dalam Ajaran Komunisme

Selesai juga akhirnye baca buku “Kami Memanggil.” Yang diterbitan Dewan Pimpinan Partai Masyumi Bagian Penerangan Jakarta. Tahun 1955. Gagal memahami Marxisme. Ini karena isi buku referensi teorinya ndak jelas, selain itu ada beberapa konsep yang menurutku penulis hanya beropini (red: ngarang bebas)

Pertama, Rusia sebagai negara Imperialis

Penulis buku ini menyangka Soviet kini Rusia memainkan peranan sebagai Imperialis hanya karena membantu perjuangan Partai Komunis dan Rakyat di negeri terjajah, seperti di Indonesia. Padahal kedudukan Soviet kala itu sebagai negara sosialis memang punya kewajiban solidaritas internasionalis untuk membantu perjuangan rakyat demi kemerdekaan setiap negara, eh malah dikaitkan ke Konsep Imperialis. Konsep Imperialis yang dimaksud penulis di buku ini berbeda dengan Imperialisme yang dimaksud Lenin dalam bukunya “Imperialisme sebagai tahap tertinggi Kapitalisme”.

Kedua, Kerensky sebagai tokoh paling revolusioner ketimbang Lenin.

Ini juga fatal karena penulis menyebut Kerensky sebagai penggerak Revolusi Februari 1917, faktanya Revolusi Februari 1917 justru digerakkan oleh Kaum Perempuan pro Bolshevik (kelompok Lenin dkk), adapun Lenin waktu itu emang di luar negeri karena dilarang Tsar untuk masuk ke Rusia. Lenin diasingkan ke Eropa sebelum Tsar digulingkan lewat Revolusi Februari. Kerensky sendiri nyatanya merupakan politisi yang kontra-revolusioner karena mendukung berlanjutnye Perang dunia pertama.

Ketiga, Kedudukan Perempuan di masyarakat sosialis itu ibarat segelas air yang bisa dipakai bergilir.

Ini juga pemahaman sesat dan dijadikan senjata untuk menyerang yang sering dipakai oleh orang-orang anti komunis sampai sekarang seolah perempuan jadi objektifikasi di bawah rezim kediktatoran proletariat. Nyatenya komunisme atau ajaran komunis sangat menghormati perempuan, terbukti dalam pengalaman revolusi Februari 1917 yang dimotori kelompok Perempuan dan aktivis perempuan sosialis seperti Alexandra Kollontai, di samping itu juga faktanya hari perempuan internasional yang sering kita peringati setiap tanggal 8 Maret juga lahir berkat pertarungan ide di internal Gerakan Wanita Sosialis Internasional tahun 1907.

Selain itu penulis ni sepertinya gagal paham dengan kedudukan perempuan dalam ajaran Komunisme bahwa yang ingin jadi target revolusi adalah alat produksi keperluan hidup (mesin dan tanah) bukan lebih dari itu. Memangnya perempuan adalah alat produksi keperluan hidup? kan bukan.

Keempat, Penulis cenderung menyamakan Materialisme historis dengan materialisme filosofis yang Ateis.

Pemahaman ini umum pada anti komunisme. Seolah Komunisme sama dengan ateis hanya karena menganut materialisme. Jelas ragam pemahaman tentang materialisme. sebut saja Materialisme Primitif (Demokritus dkk), Materialisme Mekanik, sampai akhirnya Marx dan Engels mencetuskan Materialisme-Dialektika-Historis (MDH). Tapi yang namanye MDH ni bukan ajaran Ateisme, melainkan pisau analisis untuk membedah Masyarakat secara lebih realistis dengan memakai cara tafsir yang materialis (dilihat dari aspek kebendaan) dan pendekatan yang dialektis (dilihat dari segi konflik/pertentangan di antara komponen sosial di masyarakat itu sendiri).

Penulis : Teuku Kahar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *